Langsung ke konten utama

Adab dan Nilai

Halo saya Difa! Untuk kesekian kalinya saya akan menceritakan pengalaman saya. Pengalaman kali ini cukup “nge-jleb” dan membuat mata saya terbuka, pikiran juga terbuka dan menjadi lebih sadar.

Jadi ceritanya, pada malam itu, sekitar bada maghrib lah. Saya akan pergi ke suatu tempat, sebut saja Masjid Jogokariyan *ealah* karena saya baru beberapa kali kesana dan selalu rombongan, maka pada kesempatan kali ini, ketika saya sendiri belum hafal jalan.

Akhirnya, pakailah saya teknologi peta masa kini, google maps *yak*

Karena gambarnya kecil ya, juga kurang fokus, karena harus bawa motor sambil merhatiin maps, akhirnya di belokan yg meragukan, saya memutuskan untuk bertanya pada orang. Wah, pas banget tuh, dideket pertigaan itu ada angkringan jual gorengan, si bapak yang jual lagi nggoreng nih.
Saya berhenti diatas motor tepat disamping bapak yang lagi nggoreng gorengan.

“Permisi pak, mau numpang nanya..” nggak nengok.

“ Ehm, permisi pak mau numpang nanya” nggak dijawab juga *sudah kesal*
Oke, mari kita tunggu beberapa saat, mungkin si bapak lagi konsen ke gorengannya *posthink*

“Permisi pak, mau nanya.....”

Enggak nengok enggak apa ya, si bapak langsung berkata dengan agak keras “sini mbak, turun dulu!” mengisyaratkan pada saya untuk turun dari motor. Helmnya dilepas juga deh.... *deg-degan*

“ Iya pak, bagaimana? Saya mau nanya pak...” *bertanya dengan bingung dan nggak sadar salahnya dimana*

“ Kalo mau tanya tu ya kesini, turun dulu dari motor, helmnya dilepas!”

“ Oh, iya pak, maaf pak..” *meringis*

“ Kalo mau tanya itu ya yang sopan to, gimana sih anak jaman sekarang sopan santunnya...”

“..........”

“ Orang Jogja to mbak?”

“ Eh, eh iya pak....” *meringis*

“ Lha gitu orang jogja, adab sopan santunnya dilestarikan harusnya”

*Akhirnya tanya jawab arah*

Oke! Disini saya menandai 2 kesalahan saya, atas kebodohan saya dan semoga tidak terjadi pada yang lain.
1. Tidak turun  dari motor dan melepas helm saat bertanya di pinggir jalan, dengan orang yang lebih tua.
Sejujurnya, ada alasan dibalik itu semua *masih aja ngeles* Jadi, beberapa waktu yang lalu saya juga melakukan hal yang sama, tapi nggak di Jogja sih, lebih ke desa-desa. Dan nggak ada satu ornag pun yang protes atas sikap saya waktu itu.

2. Menjawab “iya pak” saat ditanya “anak jogja kan”
Jelas-jelas saya bukan anak jogja, dan ditempat asal saya, saya tidak pernah mendapat teguran keras dari orang lain perihal adab/ sopan santun. I mean, disana nggak nggatekke kayak gini banget. Yang saya paham dari pertanyaan si bapak adalah, “mbak dari arah jogja kan?” (makanya nggak tau Jogokariyan dimana.-.) makanya saya jawab “iya pak”

Itu sih, udah, mungkin secuil kisah yang bisa menjadi pelajaran bagi kita khususnya saya:’)
Disini saya baru sadar, kalo Jogja ternyata se-adat itu, kalo Jogja ternyata njagani nilai-nila-nya sekali. Saya bangga di Jogja, semoga bisa ketularan kalemnyaJ


Tetap istimewa, Jogja! Terutama untuk para pemuda pemudinya, lestarikan nilai dan adab yang ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermanfaat untuk banyak orang bukan satu orang

(sumber: pribadi) [Aku ingin bermanfaat untuk banyak orang bukan cuma satu atau dua orang] Aku seorang mbak mentor Sudah 2 bulan aku nge-mentor Delapan adik yang beberapa asik diajak ngobrol Aku nge-mentor sepulang kuliah—hari rabu Hari rabu—hari yang sudah kami sepakati Adikku sering absen Kadang yang hadir 4 orang, 3 orang, 2 orang Bahkan pernah ku batalkan pertemuan karena cuma seorang Lama-lama, aku ingin menyerah saja Sudah cukup aku korbankan waktu, tenaga dan bensinku Gimana ngga sakit hati, setelah menempuh perjalanan sejauh itu Ternyata yang datang cuma satu? Lalu kuputuskan untuk menghubungi koorku Kukatakan, bahwa aku ingin berhenti Lebih baik, setiap pulang dari kampus Aku ke perpus, belajar yang fokus Supaya ipk bagus Dan bertahan sampai lulus Tapi itu adalah aku beberapa waktu yang lalu. Semua berubah, setelah seseorang berkata padaku “Mau hanya 1 atau 2 orang. Goal-nya adalah kamu bermanfaat, terutama bagi sekeliling...

Bagi-bagi Kebahagiaan

BASED ON TRUE STORY..... Malem sabtu, libur, habis hujan, perut mulai menggelayut manja minta makan. Lapaaarr... akhirnya, pergilah aku dan kawanku mencari asupan untuk malam ini. Kawan: ” Fat, mau makan dimana?” Aku: “Dimana aja deh, beli nasi aja kali ya...” Kawan: ”Oke, nasi yang seberang pertigaan depan mau?” Aku: “Okelah, yuk..” Sampai di pertigaan, kami akan menyeberang. Tiba-tiba.. ting..ting..tingg..tinggg... Tukang bakso lewat di depan kami. Ah, jadi pengen.. kasihan, tinggal dikit itu dagangannya, apa kubantu nglarisi aja kali ya, biar cepet laku, cepet habisnya.. pikirku.  Aku pun berjalan dibelakang pak tukang bakso, berusaha memanggilnya, tapi si bapak justru berjalan semakin cepat. Akhirnya aku pun sedikit berlari untuk mengejarnya. Si bapak rupanya mendengar langkah sandalku itu pun berbalik. Aku: “Pak, beli bakso...” Kami pun menepi dari jalan raya. Kawan: “Heh, ngapain beli bakso segala. Orang tinggal nyebrang ihh.....

Poros Dunia

Poros kehidupanmu ada pada dirimu sendiri. Kamu adalah mentari yang berputar pada porosnya sendiri. Untuk tetap hidup, menyala dan bersinar kamu perlu fokus dengan dirimu sendiri. Bukan orang lain. Biarkan mereka berputar pada porosnya masing-masing.  Hari ini aku berkesempatan untuk ikut suatu webinar yang membahas tentang produktivitas. Pembahasan yang membuat aku cukup tertampar dan tersadar, kalo produktivitas itu personal, ngga bisa dibandingkan antara seorang dengan orang yang lain. Selama ini suka insecure kalo lihat postingan orang lain di instagram, ada yang lagi sibuk meeting, ada yang lagi piknik, ada yang lukis, juga ada yang lagi bisnis. Sedangkan diri ini berkutat dengan pekerjaan rumah seharian. Jadi merasa ngga ada apa-apanya dibandingkan orang-orang dan merasa 'ngga produktif amat sih jadi orang, ngga ada karyanya' dan terus-terusan kepikiran tiap hari kudu buat sesuatu yang baru. Tapi namanya juga kepikiran, jadi cuma dipikiran aja, ngga ada aksinya.  Setelah...