Langsung ke konten utama

Be Happy!

Malem~~
Waduh, sok selo banget aku yah.. !?/&%$
nggak papa, sejenak rehat dari berpusing-pusing itu..
pokoke yang penting dibawa happy ae,
kasihan nih otak, ntar terlalu terbebani..
kan eman eman, cuma punya satu,

~dan, ini dia, opiniku, yang buat seleksi sienom tapi nggak jadi :")
#malahcurcol  -_-"





~HIJAB~
Hijab, bukan lagi barang yang langka dan sulit untuk ditemui. Dari sudut, ke sudut pemandangan kota pun. Sudah dipenuhi oleh wanita berhijab. Alhamdulillah... tapi, apa hijab yang mereka kenakan sudah pas? Apakah masih ada yang perlu diperbaiki lagi?

Suatu hari, saya sedang membuka facebook. Lalu ada salah seorang teman yang membagi sebuah kiriman yang berjudul “11 Style Hijab Yang Menandakan Sifatnya” Disana disebutkan ada 11 model hijab, beserta sifat yang dapat disimpulkan dari berbagai cara mereka berhijab. Dan ada beberapa model hijab yang menurut saya “WOW-ANEH” Lalu di bagian bawahnya ada seorang yang berkomentar “Hijab itu bukan style!” Saya terkejut, kagum, setuju dan sangat mengapresiasi pendapat tersebut.



Hijab itu bukan style! Hijab bukanlah pilihan! Tapi, hijab itu KEWAJIBAN! Kewajiban atas semua muslimah, sudah jelas! Sudah diterangkan dalam Al-Quran surat Al-Ahzab:59 yang artinya: “ Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, “ Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kaena itu mereka tidak mudah di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”

Juga pada surat An-Nuur:31 yang artinya: “ Katakanlah kepada wanita yang beriman. “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.....” Kurang apa lagi? Alasan apalagi untuk mengelak? “Mau jilbabin hati dulu..?” Sampai kapan?? Sangat tidak logis!

Menurut saya, jilbabin dulu luarnya, maka hatinya juga akan mengikuti, menyesuaikan. Karena kita akan berkaca dan berpikir “Masa iya sih, aku jilbaban kok pacaran?” “Masa iya sih, aku berhijab kok malingan?” Pasti kita akan berpikir “Malu dong sama hijabnya!”

Masih punya alasan lagi? “Nunggu dapet hidayah?” Astaghfirullah, hidayah itu dijemput ukhti, tidak ditunggu-tunggu tanpa adanya keinginan dan usaha untuk berhijrah. Jika tetap seperti itu, mau ditunggu sampai kapan? Kita disini tidak tahu waktu (baca: ajal) lho.. Kalau tidak sekarang, ya kapan lagi?

Lalu, buat ukhti yang udah berhijab. Mari kita telaah lagi, dikoreksi lagi, dilihat kembali. Apakah hijab yang dikenakan sudah sesuai syariat atau belum? Yang tidak menerawang, tidak ketat, dan harus menutup dada. Bukan hijab fashionista yang masih kelihatan lehernya, yang masih dilihatin poninya, yang hanya sebagai “pembungkus” kepala, yang dadanya belum tertutup. Semodis-modisnya kamu berhijab, bahkan sebesar-besarnya hijabmu kalau masih seperti tadi, atau ada “punuk unta” nya lah, sama saja, tidak ada artinya.

Sekali lagi, Hijab bukan style! Hijab is not choice! Ini kewajiban! Buat apa pakai hijab yang model turban, yang model sampir-sampiran, yang model poninya kelihatan (ingat ukhti! 1 helai rambutmu, menyeret ayahmu 1 langkah menuju neraka) atau, dan model lain sebagainya. Dan kini, justru diadakan ajang kecantikan muslimah, (sama sekali berbanding terbalik dengan pendapat saya). Kini hijab pun akhirnya, banyak yang dilecehkan, di buat bahan becandaan, bahan ketawaan.

Hei muslimah! Apa susahnya untuk berpakaian yang syar’i? Berhijablah sesuai syariat, sesuai yang telah ditentukan! Apa sih repotnya untuk mengikuti ajaran Rasul? Toh, semua itu demi kebaikan kita. Justru bermakna, banyak manfaatnya, banyak hikmahnya. “Butuh tahapan?” Baiklah, mari disini bersama-sama untuk belajar. Tapi, kalau tahapan yang kita lewati itu salah, tidak sesuai dengan syariat justru berkebalikan, meskipun memudahkan. Tapi, itu sama saja salah ukhti! Tahapan, tapi tidak ada kemajuan!
Jadi ukhti, muslimah... Bertekadlah karena Allah. Niatkanlah semua perubahan itu karena Allah. Dan harap lah ridho-Nya. In shaa Allah, ketika kau menjaga kehormatanmu, kau akan menjadi penolong bagi ayahmu dan saudara laki-lakimu kelak.


#proud to be muslimah! ^_^    


~sekian terima kasih...
~tapi mungkin, akan bersambung... hehe ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermanfaat untuk banyak orang bukan satu orang

(sumber: pribadi) [Aku ingin bermanfaat untuk banyak orang bukan cuma satu atau dua orang] Aku seorang mbak mentor Sudah 2 bulan aku nge-mentor Delapan adik yang beberapa asik diajak ngobrol Aku nge-mentor sepulang kuliah—hari rabu Hari rabu—hari yang sudah kami sepakati Adikku sering absen Kadang yang hadir 4 orang, 3 orang, 2 orang Bahkan pernah ku batalkan pertemuan karena cuma seorang Lama-lama, aku ingin menyerah saja Sudah cukup aku korbankan waktu, tenaga dan bensinku Gimana ngga sakit hati, setelah menempuh perjalanan sejauh itu Ternyata yang datang cuma satu? Lalu kuputuskan untuk menghubungi koorku Kukatakan, bahwa aku ingin berhenti Lebih baik, setiap pulang dari kampus Aku ke perpus, belajar yang fokus Supaya ipk bagus Dan bertahan sampai lulus Tapi itu adalah aku beberapa waktu yang lalu. Semua berubah, setelah seseorang berkata padaku “Mau hanya 1 atau 2 orang. Goal-nya adalah kamu bermanfaat, terutama bagi sekeliling...

Bagi-bagi Kebahagiaan

BASED ON TRUE STORY..... Malem sabtu, libur, habis hujan, perut mulai menggelayut manja minta makan. Lapaaarr... akhirnya, pergilah aku dan kawanku mencari asupan untuk malam ini. Kawan: ” Fat, mau makan dimana?” Aku: “Dimana aja deh, beli nasi aja kali ya...” Kawan: ”Oke, nasi yang seberang pertigaan depan mau?” Aku: “Okelah, yuk..” Sampai di pertigaan, kami akan menyeberang. Tiba-tiba.. ting..ting..tingg..tinggg... Tukang bakso lewat di depan kami. Ah, jadi pengen.. kasihan, tinggal dikit itu dagangannya, apa kubantu nglarisi aja kali ya, biar cepet laku, cepet habisnya.. pikirku.  Aku pun berjalan dibelakang pak tukang bakso, berusaha memanggilnya, tapi si bapak justru berjalan semakin cepat. Akhirnya aku pun sedikit berlari untuk mengejarnya. Si bapak rupanya mendengar langkah sandalku itu pun berbalik. Aku: “Pak, beli bakso...” Kami pun menepi dari jalan raya. Kawan: “Heh, ngapain beli bakso segala. Orang tinggal nyebrang ihh.....

Poros Dunia

Poros kehidupanmu ada pada dirimu sendiri. Kamu adalah mentari yang berputar pada porosnya sendiri. Untuk tetap hidup, menyala dan bersinar kamu perlu fokus dengan dirimu sendiri. Bukan orang lain. Biarkan mereka berputar pada porosnya masing-masing.  Hari ini aku berkesempatan untuk ikut suatu webinar yang membahas tentang produktivitas. Pembahasan yang membuat aku cukup tertampar dan tersadar, kalo produktivitas itu personal, ngga bisa dibandingkan antara seorang dengan orang yang lain. Selama ini suka insecure kalo lihat postingan orang lain di instagram, ada yang lagi sibuk meeting, ada yang lagi piknik, ada yang lukis, juga ada yang lagi bisnis. Sedangkan diri ini berkutat dengan pekerjaan rumah seharian. Jadi merasa ngga ada apa-apanya dibandingkan orang-orang dan merasa 'ngga produktif amat sih jadi orang, ngga ada karyanya' dan terus-terusan kepikiran tiap hari kudu buat sesuatu yang baru. Tapi namanya juga kepikiran, jadi cuma dipikiran aja, ngga ada aksinya.  Setelah...