~Cuma mau sharing aja, atas pengalaman hari ini...Malam ini,
biasa anak kost lagi cari makan...Yang nggak biasa, kita jarang makan malem
bergerombol kayak gini,
1 menit pertama, prepare...
2 menit selanjutnya, masih
prepare..
.3 menit kemudian, "Mau makan dimana?" tanyaku.."Lah,
dimana..??" tanya yang lain."Emang, kita mau makan apa?" tanya
yang lain lagi
10 menit setelahnya, "Ya udah yuk, jalan aja dulu..."
kataku.Sampe di per tigaan, "Mau dimana eh?" tanyaku
lagi"Hhmmm......." kata yang lain."Ya udah kita makan di -----"
kataku."Nah, gitu dong bijak!" kata yang lain.
~~Hmmm... bijak ya??
bijak/bi·jak/ a 1 selalu menggunakan akal budinya; pandai;
mahir: bukan beta -- berperi; engkau memang --; 2 Mk pandai bercakap-cakap;
petah lidah
itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dalam konteks cerita diatas, dapat disimpulkan, kalo kita
membutuhkan seorang pemimpin.
Ibarat tim, harus ada yang berani menyuruh (memutuskan) dan
harus ada yang mau untuk di suruh (di perintah)
Maka, dipilihlah seorang pemimpin atau ketua.
Dimana mereka, terpilih karena berjiwa kepemimpinan (sama
ajaa...)
Ya, maksudnya karena mereka dianggap mampu, bijaksana, adil,
dan peduli terhadap yang lain.
Dan jangan lupa, pemimpin itu, juga harus pinter ngomong,
Berani bicara gitu, dan omongannya pasti berbobot lah..
(wkwk)
Dan aku juga pernah denger, kalo pemimpin itu nggak harus
yang pandai (di akademiknya)
Karna, tiap individu itu pasti berbeda-beda, belum tentu dia
yang juara (akademik) berani berbicara di depan umum, belum tentu dia bisa
bergaul sama yang lain dengan mudah.
Dan dimana seorang ketua menjadi acuan bagi anggota nya.
Maka, ketua itu harus bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Dalam berbagai hal, termasuk akademik ( looh..??)
(Ya seenggak nya, akademiknya nggak jauh-jauh amat lah ya,,
:) )
Pemimpin itu juga harus adil, nggak serong sana juga nggak
nggak serong sini. (wkwkwk kaya lagu Potong Bebek aja)
Nek jadi pemimpin itu juga harus berani mutusi,
Kalo nggak berani mutusi, nanti masalahnya nggak
kelar-kelar, cuma digantung aja..
dan kalo udah mutusi, juga harus berani terima resiko... Kan
bertanggung jawab,
Karna jadi pemimpin itu, juga nggak boleh jirih.. Kan dia
yang di depan,,,
Juga harus maju terus, pantang mundur!
Pokoknya, totalitas deh, berkorban apapun demi tercapainya
tujuan.
Dan ketika jadi seorang pemimpin, kerja nya nggak cuma
nyuruh-nyuruh aja.
Tapi, "yuk, kita berusaha bersama!"
Kan lebih, so sweet gitu.. ( ciyee,,, apaan sih?! )
Dia berusaha bersama anggotanya, mengawasi mereka,
mengingatkan mereka, membenarkan bila terjadi suatu kesalahan, dan mengambil
keputusan demi kebaikan bersama. Mengayomi anggotanya dengan sepenuh hati,
keikhlasan, selalu berusaha untuk bersikap adil, dan lebih peka terhadap orang
lain. Karena dia sadar, dia tahu, bahwa amanah ini, tugas ini, yang telah
dipercayakan padanya. Akan di pertanggung jawabkan di akhir, dipertanggung
jawabkan di dunia, maupun di akhirat. Maka jangan kau remehkan kepercayaan itu,
karena :
"Kepercayaan
itu, ibarat kertas apabila sudah diremas dia tidak akan kembali rapih seperti
semula" (Anonymous)
Jika kau menjaga kepercayaan itu, dengan sepenuh hati.
Melaksanakan tugas dengan baik, ia akan menjadi ladang kebaikan untuk mu.
Namun, sebaliknya... Jika kau tak bisa menjaganya, atau bahkan justru
menghancurkannya. Maka orang-orang akan berpikir lain terhadapmu.
Dan pada hakekatnya, " Setiap manusia adalah pemimpin,
termasuk bagi dirinya sendiri ..."
Yang juga akan dipertanggung jawabkan atas kepemimpinannya
kelak :) :)
*sekian, terima kasih.. semoga bermanfaat, meski hanya
sekecil biji sawi :)
this is my opinion, ;) ;) ;)
kritik dan saran? silahkan.. :)
Komentar
Posting Komentar