Langsung ke konten utama

Yang Legowo...






                                           sumber: katakata-kumpulan.blogspot.com

Ikhlas, belajar ikhlas. Awalnya, berat... Tapi kau harus harus rela melepaskannya. Dengan cara yakin, yakin bahwa Allah akan memberi yang terbaik bagi hamba-Nya. Terutama bagi hambanya, yang beriman dan beramal sholeh. 
Dan aku, sedang belajar untuk ikhlas, ikhlas untuk melepas harapan.
Harapan yang sudah kupendam semakin dalam, akan terpendam lebih dalam.
Awalnya, marah, nggak bisa terima, sedih, dan menyesal..
Tapi, seseorang mengajariku untuk ikhlas, berpasrah pada tiap keadaan.
Karna semua, akan berjalan pada jalannya masing-masing.
Jalan yang telah di tentukan.
Namun, bukan berarti untuk pasrah. Pasrah, lalu tidah berusaha.
Harus ada ikhtiar di dalamnya, sebelum kita bertawakkal pada-Nya.
Karena Allah menunjukkan jalan itu, juga tergantung pada usaha kita.
Apakah kita benar bersungguh-sungguh?
Atau justru lebih banyak mengeluh?
Karna, apa yang kau panen, adalah hasil dari apa yang kau tanam.
Ketika kau menanam sebuah impian, lalu kau memupuknya dengan usaha, dan menyiraminya dengan do'a. Maka hasil panenmu, akan sebaik perawatanmu.
Begitu juga sebaliknya.

Maka, untuk masa depanmu...
Ikhlaskan semua nya, serahkan pada-Nya.
Ketika ikhlas mu, bukan berarti hanya sekedar termenung untuk menunggu.
Tapi, hiasilah dengan usaha, perindahlah dengan do'a.
Syukuri, apa yang kini kau miliki...
Lakukan yang terbaik, semaksimal mungkin yang dapat kau perbuat.
Dan percayalah,
Dia akan memberi jalan yang terbaik bagimu, 
Terbaik di mata manusia, belum tentu terbaik di mata-Nya.
Karena Dia lah Sang Maha Pencipta.
Dia lah, sebaik-baik Perencana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermanfaat untuk banyak orang bukan satu orang

(sumber: pribadi) [Aku ingin bermanfaat untuk banyak orang bukan cuma satu atau dua orang] Aku seorang mbak mentor Sudah 2 bulan aku nge-mentor Delapan adik yang beberapa asik diajak ngobrol Aku nge-mentor sepulang kuliah—hari rabu Hari rabu—hari yang sudah kami sepakati Adikku sering absen Kadang yang hadir 4 orang, 3 orang, 2 orang Bahkan pernah ku batalkan pertemuan karena cuma seorang Lama-lama, aku ingin menyerah saja Sudah cukup aku korbankan waktu, tenaga dan bensinku Gimana ngga sakit hati, setelah menempuh perjalanan sejauh itu Ternyata yang datang cuma satu? Lalu kuputuskan untuk menghubungi koorku Kukatakan, bahwa aku ingin berhenti Lebih baik, setiap pulang dari kampus Aku ke perpus, belajar yang fokus Supaya ipk bagus Dan bertahan sampai lulus Tapi itu adalah aku beberapa waktu yang lalu. Semua berubah, setelah seseorang berkata padaku “Mau hanya 1 atau 2 orang. Goal-nya adalah kamu bermanfaat, terutama bagi sekeliling...

Bagi-bagi Kebahagiaan

BASED ON TRUE STORY..... Malem sabtu, libur, habis hujan, perut mulai menggelayut manja minta makan. Lapaaarr... akhirnya, pergilah aku dan kawanku mencari asupan untuk malam ini. Kawan: ” Fat, mau makan dimana?” Aku: “Dimana aja deh, beli nasi aja kali ya...” Kawan: ”Oke, nasi yang seberang pertigaan depan mau?” Aku: “Okelah, yuk..” Sampai di pertigaan, kami akan menyeberang. Tiba-tiba.. ting..ting..tingg..tinggg... Tukang bakso lewat di depan kami. Ah, jadi pengen.. kasihan, tinggal dikit itu dagangannya, apa kubantu nglarisi aja kali ya, biar cepet laku, cepet habisnya.. pikirku.  Aku pun berjalan dibelakang pak tukang bakso, berusaha memanggilnya, tapi si bapak justru berjalan semakin cepat. Akhirnya aku pun sedikit berlari untuk mengejarnya. Si bapak rupanya mendengar langkah sandalku itu pun berbalik. Aku: “Pak, beli bakso...” Kami pun menepi dari jalan raya. Kawan: “Heh, ngapain beli bakso segala. Orang tinggal nyebrang ihh.....

Poros Dunia

Poros kehidupanmu ada pada dirimu sendiri. Kamu adalah mentari yang berputar pada porosnya sendiri. Untuk tetap hidup, menyala dan bersinar kamu perlu fokus dengan dirimu sendiri. Bukan orang lain. Biarkan mereka berputar pada porosnya masing-masing.  Hari ini aku berkesempatan untuk ikut suatu webinar yang membahas tentang produktivitas. Pembahasan yang membuat aku cukup tertampar dan tersadar, kalo produktivitas itu personal, ngga bisa dibandingkan antara seorang dengan orang yang lain. Selama ini suka insecure kalo lihat postingan orang lain di instagram, ada yang lagi sibuk meeting, ada yang lagi piknik, ada yang lukis, juga ada yang lagi bisnis. Sedangkan diri ini berkutat dengan pekerjaan rumah seharian. Jadi merasa ngga ada apa-apanya dibandingkan orang-orang dan merasa 'ngga produktif amat sih jadi orang, ngga ada karyanya' dan terus-terusan kepikiran tiap hari kudu buat sesuatu yang baru. Tapi namanya juga kepikiran, jadi cuma dipikiran aja, ngga ada aksinya.  Setelah...