Hidup
sebagai seorang perantau memang sulit, tapi semua itu bisa menjadi mudah jika
kau sudah terbiasa menjalaninya. Di sini aku tidak akan menceritakan pengalaman
orang lain, tapi ini ceritaku.
Sudah 4 tahun terhitung lamanya, aku merantau ke tanah orang. Meski tidak
begitu jauh dari daerah asalku, tapi aku benar-benar bisa merasakan
“perantauan” itu. Aku berasal dari kota kecil yang berada di sekitar 150 km kearah timur dari
Yogyakarta.
Sejak kelas 1 SMP aku menginjak tanah ini. Tanah yang benar-benar
memisahkan ku begitu jauh dengan keluargaku. Yang benar-benar memaksaku untuk
hidup mandiri selama 4 tahun ini. Atau bahkan, lebih dari itu.. karna sejak
kelas 4 SD pun orangtuaku memiliki tempat tinggal yang berbeda karena tuntutan
pekerjaan, masih di satu kota yang sama, namun berbeda daerahnya.
Cukup sulit bagiku mengawali kisah hidup seorang perantau ini. Dimana aku
harus mengurus hidupku sendiri, cuci baju, cuci piring, jemur, nyetrika, dan seabrek
pekerjaan rumah tangga lain yang tak biasa aku lakukan sendiri. Ketika itu aku
tinggal di asrama, sehingga ada celah di hati yang berkata “ lha wong aku
disini berbanyak kok, nggak sendiri, yoweslah. Susah e nanti lak yo
bareng-bareng...”
Dua minggu waktu yang cukup menguras air mata dan pikiran *lay. Karena merasa
hidup tidak tenang di alam orang ini. Rasanya, pengen pulang, nggak betah,
hahaha.. itu wajar. Bahkan semua santri mengalami itu, Cuma jangka waktu
“penerimaan diri” saja yang berbeda tiap individu.
Banyak yang merasa tertekan, “tekanan batin” katanya. Penyakit yang meraja
lela di tiap awal tahun ajaran. Haha. Itu sebelumnya, karena tidak terbiasa.
Tidak terbiasa melakoni pekerjaan rumah tangga sendiri, tidak terbiasa jauh
dari orang tua (maklum, dulu kami disana hanya bisa menghubungi orang tua tiap
hari jumat-ahad saja, itu pun harus sabar dengan antrian panjang J dan biasa dikunjungi tiap 2 minggu
sekali, atau bahkan 1 bulan sekali)
Nah disitu, peran ustadzah, kakak kelas, dan teman sangat membantu.
Menguatkan. Memotivasi. Terlebih lagi “persamaan nasib” lah yang membuat kami
semakin kuat hidup di asrama. Dan padatnya kegiatan pondok yang membuat kami
tidak memiliki waktu untuk sekedar mengingat “rumah” J
Awalnya, mungkin aku menyesal. Kenapa harus bersekolah sejauh ini dengan
orang tua? Tapi lama-lama kutemukan juga kebahagiannya. Kenyamanannya. Berbagi
tempat tinggal, berbagi makanan, berbagi barang-barang dengan kawan-kawan *loh. Belajar banyak tentang kesabaran, berbagi dengan orang lain, belajar lebih peduli dan hidup sederhana. Disitu ku temukan asyiknya, serunya. Dengan segala keriuhannya. Percayalah. Itu
menyenangkan dan mengesankan. Lebih banyak lagi pelajaran yang bisa kau ambil dari sana.
Next..
Perantauan #2
foto: pribadi
