Langsung ke konten utama

Perantauan #1


Hidup sebagai seorang perantau memang sulit, tapi semua itu bisa menjadi mudah jika kau sudah terbiasa menjalaninya. Di sini aku tidak akan menceritakan pengalaman orang lain, tapi ini ceritaku.

Sudah 4 tahun terhitung lamanya, aku merantau ke tanah orang. Meski tidak begitu jauh dari daerah asalku, tapi aku benar-benar bisa merasakan “perantauan” itu. Aku berasal dari kota kecil yang berada  di sekitar 150 km kearah timur dari Yogyakarta.

Sejak kelas 1 SMP aku menginjak tanah ini. Tanah yang benar-benar memisahkan ku begitu jauh dengan keluargaku. Yang benar-benar memaksaku untuk hidup mandiri selama 4 tahun ini. Atau bahkan, lebih dari itu.. karna sejak kelas 4 SD pun orangtuaku memiliki tempat tinggal yang berbeda karena tuntutan pekerjaan, masih di satu kota yang sama, namun berbeda daerahnya.

Cukup sulit bagiku mengawali kisah hidup seorang perantau ini. Dimana aku harus mengurus hidupku sendiri, cuci baju, cuci piring, jemur, nyetrika, dan seabrek pekerjaan rumah tangga lain yang tak biasa aku lakukan sendiri. Ketika itu aku tinggal di asrama, sehingga ada celah di hati yang berkata “ lha wong aku disini berbanyak kok, nggak sendiri, yoweslah. Susah e nanti lak yo bareng-bareng...”

Dua minggu waktu yang cukup menguras air mata dan pikiran *lay. Karena merasa hidup tidak tenang di alam orang ini. Rasanya, pengen pulang, nggak betah, hahaha.. itu wajar. Bahkan semua santri mengalami itu, Cuma jangka waktu “penerimaan diri” saja yang berbeda tiap individu.

Banyak yang merasa tertekan, “tekanan batin” katanya. Penyakit yang meraja lela di tiap awal tahun ajaran. Haha. Itu sebelumnya, karena tidak terbiasa. Tidak terbiasa melakoni pekerjaan rumah tangga sendiri, tidak terbiasa jauh dari orang tua (maklum, dulu kami disana hanya bisa menghubungi orang tua tiap hari jumat-ahad saja, itu pun harus sabar dengan antrian panjang J dan biasa dikunjungi tiap 2 minggu sekali, atau bahkan 1 bulan sekali)

Nah disitu, peran ustadzah, kakak kelas, dan teman sangat membantu. Menguatkan. Memotivasi. Terlebih lagi “persamaan nasib” lah yang membuat kami semakin kuat hidup di asrama. Dan padatnya kegiatan pondok yang membuat kami tidak memiliki waktu untuk sekedar mengingat “rumah” J

Awalnya, mungkin aku menyesal. Kenapa harus bersekolah sejauh ini dengan orang tua? Tapi lama-lama kutemukan juga kebahagiannya. Kenyamanannya. Berbagi tempat tinggal, berbagi makanan, berbagi barang-barang dengan kawan-kawan *loh. Belajar banyak tentang kesabaran, berbagi dengan orang lain, belajar lebih peduli dan hidup sederhana. Disitu ku temukan asyiknya, serunya. Dengan segala keriuhannya. Percayalah. Itu menyenangkan dan mengesankan. Lebih banyak lagi pelajaran yang bisa kau ambil dari sana.





Next.. Perantauan #2

foto: pribadi

Postingan populer dari blog ini

Bermanfaat untuk banyak orang bukan satu orang

(sumber: pribadi) [Aku ingin bermanfaat untuk banyak orang bukan cuma satu atau dua orang] Aku seorang mbak mentor Sudah 2 bulan aku nge-mentor Delapan adik yang beberapa asik diajak ngobrol Aku nge-mentor sepulang kuliah—hari rabu Hari rabu—hari yang sudah kami sepakati Adikku sering absen Kadang yang hadir 4 orang, 3 orang, 2 orang Bahkan pernah ku batalkan pertemuan karena cuma seorang Lama-lama, aku ingin menyerah saja Sudah cukup aku korbankan waktu, tenaga dan bensinku Gimana ngga sakit hati, setelah menempuh perjalanan sejauh itu Ternyata yang datang cuma satu? Lalu kuputuskan untuk menghubungi koorku Kukatakan, bahwa aku ingin berhenti Lebih baik, setiap pulang dari kampus Aku ke perpus, belajar yang fokus Supaya ipk bagus Dan bertahan sampai lulus Tapi itu adalah aku beberapa waktu yang lalu. Semua berubah, setelah seseorang berkata padaku “Mau hanya 1 atau 2 orang. Goal-nya adalah kamu bermanfaat, terutama bagi sekeliling...

Bagi-bagi Kebahagiaan

BASED ON TRUE STORY..... Malem sabtu, libur, habis hujan, perut mulai menggelayut manja minta makan. Lapaaarr... akhirnya, pergilah aku dan kawanku mencari asupan untuk malam ini. Kawan: ” Fat, mau makan dimana?” Aku: “Dimana aja deh, beli nasi aja kali ya...” Kawan: ”Oke, nasi yang seberang pertigaan depan mau?” Aku: “Okelah, yuk..” Sampai di pertigaan, kami akan menyeberang. Tiba-tiba.. ting..ting..tingg..tinggg... Tukang bakso lewat di depan kami. Ah, jadi pengen.. kasihan, tinggal dikit itu dagangannya, apa kubantu nglarisi aja kali ya, biar cepet laku, cepet habisnya.. pikirku.  Aku pun berjalan dibelakang pak tukang bakso, berusaha memanggilnya, tapi si bapak justru berjalan semakin cepat. Akhirnya aku pun sedikit berlari untuk mengejarnya. Si bapak rupanya mendengar langkah sandalku itu pun berbalik. Aku: “Pak, beli bakso...” Kami pun menepi dari jalan raya. Kawan: “Heh, ngapain beli bakso segala. Orang tinggal nyebrang ihh.....

Poros Dunia

Poros kehidupanmu ada pada dirimu sendiri. Kamu adalah mentari yang berputar pada porosnya sendiri. Untuk tetap hidup, menyala dan bersinar kamu perlu fokus dengan dirimu sendiri. Bukan orang lain. Biarkan mereka berputar pada porosnya masing-masing.  Hari ini aku berkesempatan untuk ikut suatu webinar yang membahas tentang produktivitas. Pembahasan yang membuat aku cukup tertampar dan tersadar, kalo produktivitas itu personal, ngga bisa dibandingkan antara seorang dengan orang yang lain. Selama ini suka insecure kalo lihat postingan orang lain di instagram, ada yang lagi sibuk meeting, ada yang lagi piknik, ada yang lukis, juga ada yang lagi bisnis. Sedangkan diri ini berkutat dengan pekerjaan rumah seharian. Jadi merasa ngga ada apa-apanya dibandingkan orang-orang dan merasa 'ngga produktif amat sih jadi orang, ngga ada karyanya' dan terus-terusan kepikiran tiap hari kudu buat sesuatu yang baru. Tapi namanya juga kepikiran, jadi cuma dipikiran aja, ngga ada aksinya.  Setelah...