Langsung ke konten utama

Perantauan #2




Dan, satu tahun belakangan ku coba menjalani hidupku yang baru. Keluar dari zona aman pesantren. Menuju kehidupan yang “lebih nyata” katanya. Benar saja. Dulu ku kira ini hanya guyonan orang saja, ternyata benar “ooh, ini toh, ternyata kayak gini toh

Walaupun masih banyak orang yang berkata bahwa dunia yang kutinggali sekarang masih berada di “zona aman, nyaman dan tentram” Lalu, mana dunia yang katanya “lebih nyata” itu? Hahaha. Di atas zona aman, ada zona cukup aman, atasnya zona lumayan aman lah, dst. Ku pikir. Hahaha.

Tinggal di kost.

Kost? Bayangan seperti apa yang merasuk di benak setelah mendengar kata kost? Menyenangkan. Ya, cukup menyenangkan sejauh ini. Tapi juga ada cerita sedih yang mendalam *hyah.

Disini rasanya benar-benar sendiri. Sebatang kara. Terutama seperti aku yang tidak memiliki sanak saudara di Yogya. Belum punya kenalan, ya itu wajar lah anak baru. Disini bener-bener sendiri, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Nggak perlu dibandingin dengan kehidupan asrama karena ini sangat berbeda.

Hidupmu hidupmu, tanggunganmu. Monggo mengurusi dirinya masing-masing. Kalau lapar? Ya cari makan atau nggak masak lah. Baju kotor? Ya dicuci sendiri lah. Baju lecek? Gek disetrika nek nggak mau malu. Sakit? Ada tuh persediaanyya di kotak obat. Butuh ini, butuh itu? Pergi, cari sendiri. Bangun kudu pagi biar nggak telat. Pulang malem? Tanggung sendiri. Kemaleman, gerbang udah dikunci? Lompat pager pun dilewati. Yang bener-bener tanggung jawab sama diri sendiri 100% itu ditangan sendiri. Kalo ada yang salah, ya salah sendiri.

Kayak gitu sih kasarannya.

Tapi tenang “persamaan nasib” itu selalu menyelamatkan. Karena nggak Cuma kamu yang merasa begitu. Maka teman senasib biasanya lebih care, dan saling membantu. Tapi ada juga kok, teman yang “prihatin” kali ya. Haha. Jadi sering menawarkan bantuan ke temen-temen yang kost. Entah minjemin motor, beliin makan, nganterin ke toko atau lainnya. Tapi itu sangat membantu. Hitung-hitung balas budi lah *loh, ya kita yang biasanya kosnya ditumpangin buat mandi, numpang nginep, numpang nyetrika, sampe pinjem baju seragam pun. Haha.


Next.. Perantauan #3

gambar: Dhammacakka Online

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermanfaat untuk banyak orang bukan satu orang

(sumber: pribadi) [Aku ingin bermanfaat untuk banyak orang bukan cuma satu atau dua orang] Aku seorang mbak mentor Sudah 2 bulan aku nge-mentor Delapan adik yang beberapa asik diajak ngobrol Aku nge-mentor sepulang kuliah—hari rabu Hari rabu—hari yang sudah kami sepakati Adikku sering absen Kadang yang hadir 4 orang, 3 orang, 2 orang Bahkan pernah ku batalkan pertemuan karena cuma seorang Lama-lama, aku ingin menyerah saja Sudah cukup aku korbankan waktu, tenaga dan bensinku Gimana ngga sakit hati, setelah menempuh perjalanan sejauh itu Ternyata yang datang cuma satu? Lalu kuputuskan untuk menghubungi koorku Kukatakan, bahwa aku ingin berhenti Lebih baik, setiap pulang dari kampus Aku ke perpus, belajar yang fokus Supaya ipk bagus Dan bertahan sampai lulus Tapi itu adalah aku beberapa waktu yang lalu. Semua berubah, setelah seseorang berkata padaku “Mau hanya 1 atau 2 orang. Goal-nya adalah kamu bermanfaat, terutama bagi sekeliling...

Bagi-bagi Kebahagiaan

BASED ON TRUE STORY..... Malem sabtu, libur, habis hujan, perut mulai menggelayut manja minta makan. Lapaaarr... akhirnya, pergilah aku dan kawanku mencari asupan untuk malam ini. Kawan: ” Fat, mau makan dimana?” Aku: “Dimana aja deh, beli nasi aja kali ya...” Kawan: ”Oke, nasi yang seberang pertigaan depan mau?” Aku: “Okelah, yuk..” Sampai di pertigaan, kami akan menyeberang. Tiba-tiba.. ting..ting..tingg..tinggg... Tukang bakso lewat di depan kami. Ah, jadi pengen.. kasihan, tinggal dikit itu dagangannya, apa kubantu nglarisi aja kali ya, biar cepet laku, cepet habisnya.. pikirku.  Aku pun berjalan dibelakang pak tukang bakso, berusaha memanggilnya, tapi si bapak justru berjalan semakin cepat. Akhirnya aku pun sedikit berlari untuk mengejarnya. Si bapak rupanya mendengar langkah sandalku itu pun berbalik. Aku: “Pak, beli bakso...” Kami pun menepi dari jalan raya. Kawan: “Heh, ngapain beli bakso segala. Orang tinggal nyebrang ihh.....

Poros Dunia

Poros kehidupanmu ada pada dirimu sendiri. Kamu adalah mentari yang berputar pada porosnya sendiri. Untuk tetap hidup, menyala dan bersinar kamu perlu fokus dengan dirimu sendiri. Bukan orang lain. Biarkan mereka berputar pada porosnya masing-masing.  Hari ini aku berkesempatan untuk ikut suatu webinar yang membahas tentang produktivitas. Pembahasan yang membuat aku cukup tertampar dan tersadar, kalo produktivitas itu personal, ngga bisa dibandingkan antara seorang dengan orang yang lain. Selama ini suka insecure kalo lihat postingan orang lain di instagram, ada yang lagi sibuk meeting, ada yang lagi piknik, ada yang lukis, juga ada yang lagi bisnis. Sedangkan diri ini berkutat dengan pekerjaan rumah seharian. Jadi merasa ngga ada apa-apanya dibandingkan orang-orang dan merasa 'ngga produktif amat sih jadi orang, ngga ada karyanya' dan terus-terusan kepikiran tiap hari kudu buat sesuatu yang baru. Tapi namanya juga kepikiran, jadi cuma dipikiran aja, ngga ada aksinya.  Setelah...